Catatan Ekonomi
Oleh : Riswan
Di Bengkulu, jalan dulu sering lebih mirip arena uji nyali ketimbang prasarana ekonomi. Lubang datang tak diundang genangan hadir tanpa pamit. Tapi 2025 mencoba mengubah cerita itu. Lewat Program Bantu Rakyat Jalan Mulus Gubernur Helmi Hasan menjadikan aspal sebagai pintu masuk Pembangunan dan ternyata dampaknya tidak berhenti di pinggir jalan.
Data BPS dan Dinas PUPR mencatat, Bengkulu memiliki ±1.330–1.560 kilometer jalan provinsi. Panjang ini bukan sekadar angka tapi jalur distribusi hasil tani, akses Pendidikan dan denyut perdagangan. Karena itu Pemprov menggelontorkan ±Rp 500 miliar APBD 2025 untuk pembangunan dan perbaikan jalan serta jembatan. Targetnya cukup berani 75–80 persen jalan provinsi dalam kondisi baik dan mulus.
Sebanyak 22 ruas jalan provinsi kini dikerjakan di berbagai wilayah, mulai dari Bengkulu Tengah, Rejang Lebong, hingga Seluma dan lainnya. Walau data rinci kilometer yang rampung belum diumumkan, proyek sudah berkontrak dan berjalan aktif. Dalam bahasa sederhana ini bukan janji kampanye yang terselip di tikungan, tapi pekerjaan yang bisa dilihat dan didengar.
Pembagian anggaran pun berbicara soal prioritas. Bengkulu Tengah mendapat porsi terbesar, sekitar Rp 182,2 miliar, disusul Rejang Lebong Rp 114 miliar dan Seluma Rp 85 miliar. Kabupaten lain tetap kebagian, meski porsinya berbeda. Artinya, pembangunan tidak seragam, tapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan ruas jalan.
Yang menarik, jalan mulus mulai berdampak pada ekonomi. Data BPS 2025 menunjukkan pertumbuhan ekonomi Bengkulu bergerak positif, didorong sektor pertanian, perdagangan dan konstruksi. Jalan yang lebih baik memangkas biaya logistik, mempercepat distribusi dan membuat pasar lebih mudah dijangkau. Ekonomi pun tak lagi tersendat di lubang jalan.
Dampak lanjutannya terlihat pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Akses jalan yang membaik memudahkan anak sekolah, mempercepat rujukan Kesehatan dan membuka peluang kerja. IPM Bengkulu 2025 menurut BPS menunjukkan tren peningkatan pelan tapi pasti.
Masih ada 20–25 persen jalan atau sekitar 266–390 kilometer yang menunggu giliran. Ini pelajaran penting pembangunan adalah proses berkelanjutan. Tapi satu hal jelas, di Bengkulu 2025 aspal tak lagi sekadar hitam ia mulai berwarna harapan, ekonomi dan kualitas hidup.







