Alaku

Gus Rozin Ajak Akhiri Polarisasi NU, Tawarkan Jalan Tengah Jelang Muktamar Ke-35

KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin saat bersilaturahmi dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bengkulu bersama jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Provinsi Bengkulu di Hotel Mercure Bengkulu, Minggu (2/8/2026). (dok:istimewa)

Bengkulu – KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin mengajak seluruh elemen Nahdlatul Ulama (NU) mengakhiri polarisasi yang berkembang di internal organisasi menjelang Muktamar Ke-35 NU. Ia menawarkan pendekatan jalan tengah sebagai upaya memperkuat kembali persaudaraan dan menjaga soliditas jam’iyah.

Gagasan tersebut disampaikan Gus Rozin saat bersilaturahmi dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bengkulu bersama jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Provinsi Bengkulu di Hotel Mercure Bengkulu, Minggu (2/8/2026).

Menurut Gus Rozin, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi konflik yang berlarut-larut hingga melemahkan peran NU di tengah masyarakat.

“Yang pertama tentu keprihatinan atas polarisasi dan perbedaan pendapat yang terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama saat ini,” ujarnya.

Ia menegaskan, jalan tengah yang ditawarkannya bukan untuk membentuk kelompok baru di lingkungan NU. Pendekatan tersebut justru bertujuan membuka ruang dialog, mempertemukan berbagai pandangan, serta mencari titik temu demi menjaga kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok.

Menurutnya, langkah awal yang harus diperkuat adalah membangun kembali ukhuwah nahdliyah atau persaudaraan antarsesama warga NU. Dengan persaudaraan yang kokoh, setiap perbedaan dapat diselesaikan melalui musyawarah tanpa mengorbankan kebersamaan.

“Kita ingin NU kembali bermartabat melalui ukhuwah nahdliyah, persaudaraan sesama orang NU,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Gus Rozin juga memaparkan tiga pilar penguatan organisasi, yakni NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Pilar berdaulat dimaknai sebagai kemandirian organisasi dalam menentukan arah perjuangan, termasuk menjalankan fungsi sebagai sahabat kritis pemerintah yang tetap mendukung kebijakan pro-rakyat sekaligus berani memberikan masukan apabila diperlukan.

Sementara pilar bermartabat diarahkan untuk memulihkan marwah organisasi melalui penguatan persaudaraan internal. Adapun pilar bermanfaat menekankan pentingnya kehadiran NU yang memberi dampak nyata bagi masyarakat melalui pengembangan pendidikan, pesantren, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

“Kita ingin NU ini bermanfaat sampai ke level terkecil. Perguruan tingginya bermanfaat, rumah sakitnya bermanfaat, dan pesantrennya betul-betul bermanfaat,” ujar Gus Rozin.

Ia juga mengapresiasi kekompakan jajaran PWNU dan PCNU di Bengkulu yang dinilainya mampu menjaga koordinasi organisasi dengan baik. Menurutnya, penguatan NU tidak boleh hanya berpusat di Jakarta atau Pulau Jawa, melainkan harus menjangkau daerah agar seluruh program organisasi dapat dirasakan secara merata.

Silaturahmi tersebut berlangsung menjelang Muktamar Ke-35 NU yang dijadwalkan digelar di Jombang, Jawa Timur. Meski namanya masuk dalam bursa bakal calon Ketua Umum PBNU, Gus Rozin menegaskan bahwa prioritas utama NU saat ini adalah memperkuat persatuan, mengakhiri polarisasi, dan memastikan organisasi terus memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan