Bengkulu – Perbincangan mengenai risiko investasi emas digital ramai mencuat di media sosial X setelah muncul kabar perusahaan emas digital di China mengalami gagal bayar, sehingga memicu kekhawatiran nasabah yang kesulitan menarik dana mereka, khususnya pada skema emas digital China yang selama ini dianggap praktis dan aman.
Mengacu laporan The Standard yang juga dikutip Kontan.co.id, sejumlah pengguna platform emas digital di China mengeluhkan pembatasan penarikan dana harian maksimal 500 yuan dan setara 1 gram emas sejak 26 Januari 2026. Bahkan, sebagian nasabah mengaku sudah tidak bisa menarik dana sama sekali sejak 20 Januari 2026.
Isu ini menjadi perhatian luas pelaku pasar karena terjadi di tengah tren kenaikan harga emas global. Selama ini, emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai yang relatif stabil, terutama saat inflasi tinggi dan kondisi ekonomi tidak menentu, termasuk pada model investasi emas digital China yang tengah berkembang pesat.
Menanggapi fenomena tersebut, perencana keuangan Andi Nugroho menegaskan bahwa emas tetap menjadi instrumen investasi favorit karena mudah dipahami dan memiliki tingkat likuiditas tinggi di masyarakat.














