Scroll untuk baca artikel
Alaku
Alaku
Alaku
Literasi & Opini

Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu

×

Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu

Sebarkan artikel ini
Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu
Mahatma Muhammad, Seniman, Pengamat dan Pekerja Budaya. Pendiri Komunitas Seni Nan Tumpah (foto: dok pribadi)

Kawan-kawan, kolaborasi itu jelas tidak boleh basa-basi. Kolaborasi bagi saya adalah etika. Etika saling mendengar. Etika saling berbagi tanggung jawab. Etika untuk saling menghormati dan menerima keragaman.

Benteng Marlborough bisa menjadi ruang publik yang inklusif di mana pemerintah, komunitas, seniman, swasta, dan publik duduk sama rata. Sebagai seniman, ke depan saya membayangkan lebih banyak dol berdentum bersama musik elektronik yang beragam. Saya mau lihat tabot lebih banyak ditafsir ulang melalui seni media, pengetahuan pendap dan tempoyak bisa jadi serial film berbagai genre, dipentaskan sebagai pertunjukan atau pameran rasa.

Bicara soal inovasi, jangan langsung bayangkan lampu LED atau proyektor digital saja. Itu dekorasi, Kawan! Tapi coba kita terjemahkan inovasi sebagai relasi tubuh tradisi yang bicara pada kegelisahan tubuh ini hari. Bagaimana dol bisa bicara kepada anakku-anakmu, adikku-adikmu yang tumbuh dengan TikTok? Bagaimana Tabot bisa dirasakan sebagai notifikasi ritual lintas generasi? Bagaimana pula modelnya sastra lisan bisa kembali hidup dalam bentuk teater musikal, rap, atau konten digital?

Baca Juga:  Makna Qurban, Dari Musholla Kecil hingga Keteladanan Nabi Ibrahim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *