Asal Usul Istilah “Lebaran Anak Yatim” dan Keutamaan Hari Asyura
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)
Asal Usul Istilah Lebaran Anak Yatim
Istilah “Lebaran Anak Yatim” sebenarnya tidak ditemukan dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW. Istilah ini berkembang sebagai budaya lokal di Indonesia untuk memberi penghormatan kepada anak-anak yatim pada tanggal 10 Muharram. Peringatan ini, yang dikenal sebagai Hari Raya Yatama atau Hari Raya Anak Yatim, bertepatan dengan Hari Asyura dalam kalender Hijriyah.
Masyarakat Indonesia umumnya menyambut Hari Yatama dengan memberikan hadiah, uang, atau mengusap kepala anak-anak yatim yang datang berkunjung, sebagai bentuk kepedulian. Kegiatan ini bukan hanya berfokus pada nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi cara untuk mempererat ikatan sosial dan menumbuhkan semangat berbagi serta kepedulian terhadap sesama.
Walau istilah “Lebaran Anak Yatim” tidak berasal dari ajaran syariat, substansi kegiatan tersebut, yakni menyantuni anak yatim, sangat dianjurkan dalam Islam. Menyantuni anak yatim adalah amalan yang sangat dihargai dalam agama Islam. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang menekankan pentingnya memberi perhatian kepada anak yatim. Salah satunya adalah ayat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 220:





