Kuliner Tradisional Bengkulu yang Nyaris Hilang: Rasa, Filosofi, dan Jejak Sejarah

By 5 bulan lalu 3 menit membaca

Bengkulu – Bengkulu bukan hanya soal pantai panjang atau jejak kolonial Inggris. Daerah ini juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang sarat sejarah dan cita rasa unik. Sayangnya, di tengah derasnya arus makanan modern, banyak kuliner lokal mulai jarang ditemui, bahkan sebagian sudah nyaris hilang dari meja makan masyarakat. Padahal, setiap hidangan tradisional tak hanya menyajikan rasa, tetapi juga mengandung filosofi dan cerita panjang tentang identitas orang Bengkulu.

Pendap, Hidangan Legendaris yang Bertahan

Salah satu kuliner yang masih bertahan hingga kini adalah pendap. Dilansir dari Kompas.com, makanan ini dibuat dari ikan yang dibalut bumbu rempah, lalu dibungkus daun talas dan dimasak dengan cara dikukus berjam-jam. Pendap sering disebut mirip pepes, namun rasa pedas dan aroma khas daun talas membuatnya berbeda. Pendap masih bisa ditemui di pasar-pasar tradisional dan beberapa rumah makan, bahkan sempat masuk daftar kuliner Nusantara yang dipromosikan ke luar negeri.

Namun, meski masih ada, pendap perlahan kehilangan popularitas di kalangan anak muda yang lebih akrab dengan makanan cepat saji.

Bagar Hiu, Ikon yang Mulai Langka

Lebih langka lagi adalah bagar hiu, masakan khas Bengkulu yang dulu sering disajikan pada acara adat atau perayaan besar. Menurut laporan IDN Times, hidangan ini dibuat dari daging ikan hiu yang dimasak dengan bumbu rempah dan santan kental. Rasanya gurih dan sedikit pedas, cocok disantap dengan nasi panas.

Alaku

Kini, bagar hiu hampir sulit ditemukan, salah satunya karena peraturan perlindungan terhadap spesies hiu yang membuat bahan bakunya tidak lagi mudah diperoleh. Dampaknya, masakan ini hanya bisa ditemui dalam festival budaya atau dibuat secara terbatas oleh keluarga yang masih menjaga resep turun-temurun.

Kue Tradisional yang Mulai Terlupakan

Selain lauk-pauk, Bengkulu juga punya beragam kue tradisional yang kini nyaris punah. Perut Punai, misalnya, adalah kue manis dari tepung ketan dan gula merah yang dulu populer di desa-desa. Ada juga kue tat, kue khas yang sering hadir saat lebaran. Menurut catatan Kemdikbud, beberapa kue tradisional ini mulai jarang dibuat karena prosesnya rumit dan memakan waktu.

Generasi muda lebih memilih kue instan atau jajanan modern, sehingga kue tradisional perlahan hanya muncul di acara adat atau pesanan khusus.

Kuliner sebagai Identitas Budaya

Kuliner tradisional tidak sekadar soal rasa. Ia adalah simbol kebersamaan, identitas, dan sejarah panjang masyarakat Bengkulu. Setiap bumbu, teknik memasak, hingga cara penyajian memiliki makna yang diwariskan turun-temurun. Kehilangan kuliner tradisional berarti kehilangan salah satu cara kita memahami budaya itu sendiri.

Harapan untuk Melestarikan

Upaya pelestarian kini mulai dilakukan. Beberapa komunitas kuliner lokal dan pemerintah daerah mencoba mengangkat kembali makanan tradisional melalui festival kuliner dan promosi digital. Restoran modern pun ada yang berinovasi menyajikan pendap atau kue tat dengan sentuhan baru. Harapannya, generasi muda bisa kembali jatuh cinta pada cita rasa warisan leluhur.

Sumber:

  • Kompas.com – “Pendap, Pepes Ikan Khas Bengkulu” (2022, diakses 21 September 2025)
  • IDN Times – “Kuliner Unik nan Lezat di Bengkulu” (2023, diakses 21 September 2025)
  • Kemdikbud.go.id – Data Kuliner Tradisional Bengkulu (diakses 21 September 2025)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xAlaku
xAlaku
Kuliner Tradisional Bengkulu yang Nyaris Hilang: Rasa, Filosofi, dan Jejak Sejarah - repoeblik.com
Menu
Cari
Bagikan
Lainnya
0%