Alaku

Selama berabad-abad, Tabut tetap bertahan, tak hanya sebagai ritual religius atau atraksi wisata tahunan, melainkan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara keyakinan dan identitas sosial. Di sinilah teori struktural fungsional Émile Durkheim menemukan relevansinya, ketika ritus dan tindakan kolektif menjadi fondasi keteraturan sosial.

Buku ini menelusuri jejak historis kedatangan Tabut oleh Imam Senggolo, merinci ragam ritusnya yang sarat makna simbolik, hingga makna mendalam dari gerak, benda, dan suara. Dol, misalnya, bukan hanya alat musik, tetapi media komunikasi sosial. Dalam perayaan Tabut, masyarakat Bengkulu dari berbagai latar belakang larut dalam bahasa simbolik yang sama.

Di tengah prosesi, seseorang tak lagi berdiri sebagai individu semata, tapi menjadi bagian dari kesatuan yang lebih besar. Inilah yang oleh Durkheim disebut “kesadaran kolektif”, rasa kebersamaan yang melampaui kepentingan pribadi. Tabut menjadi ruang sakral untuk menanamkan nilai-nilai seperti kesetiaan, keadilan, pengorbanan, dan solidaritas.

1 2 3 4

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan