Alaku
Alaku

Gempa Reok Ubah Perayaan HUT RI, Pengungsi NTT Menanti Kesempatan Pulang

Masyarakat terdampak gempa bumi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, menerima bantuan dari pemerintah, pada Senin, 17 Agustus 2026. Foto: BPMI Setpres/Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Manggarai – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), berlangsung dalam suasana berbeda setelah gempa mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026) subuh. Sejumlah warga masih bertahan di pengungsian, termasuk guru dan keluarganya yang belum berani kembali ke rumah karena rusak akibat gempa dan tertimpa pohon.

Salah satunya Yuyun Sari, warga Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok. Guru tersebut sebelumnya telah mempersiapkan sejumlah atraksi bersama murid-muridnya untuk memeriahkan peringatan 17 Agustus, namun rencana itu batal setelah gempa melanda.

“Sebenarnya saya sebagai guru rindu sekali dengan anak, karena banyak sekali atraksi yang sudah saya persiapkan,” tutur Yuyun saat ditemui di lokasi pengungsian, Senin (17/8/2026).

Yuyun masih mengingat detik-detik ketika gempa terjadi. Saat itu ia berada di kamar, sementara suaminya baru selesai melaksanakan salat subuh. Guncangan membuat lemari roboh hingga menutup pintu, sehingga Yuyun terpaksa keluar melalui bagian tembok rumah yang runtuh.

“Saya hampir tertindas lemari, tapi saya keluarnya bukan lewat pintu karena pintu sudah terhalang lemari. Saya keluarnya lewat tembok yang roboh,” katanya.

Kekhawatiran akan tsunami membuat Yuyun dan keluarganya langsung menyelamatkan diri tanpa sempat membawa barang-barang berharga. Kini, rumah mereka dalam kondisi rusak dan tertimpa pohon besar, sementara trauma membuatnya belum berani kembali.

“Langsung ke sini tanpa membawa satu apa pun. Langsung lari. Uang apa pun tidak ada kami ingat. Langsung lari saja,” ujar Yuyun.

Di tengah kondisi darurat, bantuan yang dikirim pemerintah menjadi salah satu penopang warga selama berada di pengungsian. Yuyun menyebut beras, ikan sarden dan kebutuhan pokok lainnya sangat membantu mereka yang masih diliputi trauma.

“Alhamdulillah sangat terbantu sekali dalam keadaan sekarang. Ini yang namanya keadaan darurat. Dapat bantuan ini sangat membantu,” katanya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas bantuan yang diterima warga terdampak.

Pengalaman serupa dirasakan Destria, warga Reok lainnya. Ia mengaku masih teringat kuatnya guncangan saat sebagian warga masih tertidur. Setelah keluar rumah, bunyi alarm di sekitar tempat tinggalnya yang berada di pinggir kali membuat warga bergegas menyelamatkan diri.

“Itu susah diceritakan, tapi luar biasa bagaimana guncangannya,” kata Destria.

Destria mengaku lega setelah bantuan mulai berdatangan ke lokasi pengungsian. Ia berharap perhatian dan dukungan terhadap masyarakat NTT terus diberikan, terutama kepada warga yang terdampak bencana di Kecamatan Reok.

Sementara itu, Hendrik, mekanik asal Kupang yang sedang berada di Reok ketika gempa terjadi, memilih menyelamatkan diri menuju bukit setelah warga mengingatkan adanya potensi tsunami. Setelah kondisi dinilai memungkinkan, ia kemudian menuju tempat pengungsian dan merasakan langsung manfaat bantuan yang diterima warga.

“Kalau bantuan ini cukup membantu,” ujar Hendrik. Ia berharap perhatian pemerintah terhadap masyarakat NTT terus berlanjut agar warga dapat bangkit dan kembali menjalankan kehidupan mereka.

Bagi warga Reok, peringatan kemerdekaan tahun ini tidak lagi sekadar tentang perayaan. Di tengah tenda pengungsian, harapan mereka sederhana: keselamatan, bantuan yang terus datang, dan kesempatan untuk kembali membangun kehidupan setelah bencana.

“Harapannya Indonesia jaya selalu, makmur selalu, damai selalu. Dan untuk NTT semoga kami tetap baik-baik saja dan bantuan selalu datang untuk kami,” tutur Yuyun.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan