“Emas lebih familiar bagi banyak orang. Proses membelinya mudah dan menjualnya juga gampang. Karena itu, emas termasuk instrumen yang likuid,” ujar Andi saat dihubungi Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, emas idealnya ditempatkan sebagai investasi jangka menengah hingga panjang. Hal ini berkaitan dengan adanya selisih harga beli dan jual atau spread yang dapat memengaruhi potensi keuntungan investor.
Namun demikian, Andi mengingatkan bahwa setiap bentuk investasi emas tetap memiliki risiko. Pada emas fisik, risiko utama berasal dari bentuknya yang kecil sehingga rawan hilang atau menjadi target tindak kejahatan.
Sementara pada emas digital, termasuk yang berkembang di China, risiko muncul karena fisik emas belum sepenuhnya berada di tangan investor. Ketika penyedia layanan mengalami gagal bayar atau menutup platform secara sepihak, dana investor berpotensi tidak dapat ditarik kembali.
“Emas digital karena fisik barangnya belum berada di tangan kita memiliki risiko hilang, misalnya akibat penyedia layanan emas digital kabur atau menutup aplikasinya dan tidak bisa dilacak lagi,” kata Andi.














