Ratu dari Nusantara yang Terkenal dan Hidup di Zaman Nabi Muhammad
Ratu dari Nusantara yang Terkenal dan Hidup di Zaman Nabi Muhammad / dok wikimedia

Ratu dari Nusantara yang Terkenal dan Hidup di Zaman Nabi Muhammad

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Bengkulu Nabi Muhammad hidup sekitar tahun 570 atau 571 Masehi hingga 632 Masehi. Pada masa-masa tersebut, Indonesia masih berupa Nusantara dengan berbagai kerajaan di dalamnya. Salah satu tokoh terkenal dari era ini adalah Ratu Shima, calon penguasa Kerajaan Kalingga yang lahir pada sekitar tahun 611 Masehi.

Meski Ratu Shima lahir ketika Nabi Muhammad masih hidup, ia baru memerintah pada 674 Masehi, atau setelah Nabi Muhammad wafat. Ratu Shima dikenal sebagai pemimpin yang adil dan tegas dalam menegakkan hukum di Kerajaan Kalingga, yang terletak di Pulau Jawa, tepatnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Jepara, Jawa Tengah.

Alaku

Ratu Shima Terkenal Hingga Timur Tengah

Ratu Shima menggantikan suaminya, Kartikeyasinga, dan memimpin Kerajaan Kalingga dari tahun 674 hingga 695 Masehi. Nama “Simo” diartikan sebagai “Singa,” menunjukkan keberaniannya dalam memerintah.

Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Kalingga juga dikenal dengan nama Kerajaan Keling atau Kerajaan Holing dan bercorak Hindu. Namun, nama Ratu Shima juga dikenal di luar Nusantara, terutama di Timur Tengah. Hal ini dikarenakan adanya hubungan perdagangan antara saudagar Arab (tazhi) dengan Kerajaan Kalingga.

Suatu ketika, seorang raja dari Timur Tengah bernama Ta-Shih menguji kejujuran rakyat Kalingga dengan meletakkan sekantung emas di tengah jalan dekat alun-alun kerajaan. Kantung emas itu dibiarkan tergeletak selama beberapa bulan tanpa ada satu pun rakyat Kalingga yang berani menyentuhnya.

Namun, masalah terjadi ketika anak Ratu Shima, Pangeran Narayana, tidak sengaja menyentuh kantung emas tersebut dengan kakinya. Meski tidak sengaja, Ratu Shima tetap menegakkan hukum dan menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya. Setelah permohonan ampun dari para pejabat dan keluarga, hukuman tersebut diubah menjadi pemotongan kaki Pangeran Narayana.

Masuknya Islam pada Masa Pemerintahan Ratu Shima

Menurut Agus Sunyoto dalam bukunya “Atlas Wali Songo” (2017), Islam sudah masuk ke Nusantara sekitar pertengahan abad ke-7. Hal ini dikuatkan oleh catatan P. Wheatley dalam “The Golden Khersonese: Studies in the Historical Geography of the Malay Peninsula Before A.D. 1500,” yang menyebut bahwa saudagar Arab telah melakukan perdagangan dengan Kerajaan Kalingga di bawah kepemimpinan Ratu Shima.

Selain berdagang, para saudagar Arab tersebut juga menyelipkan misi seruan Islam. Hubungan perdagangan ini terus terjalin bahkan ketika bangsa Persia muslim turut berdagang dan mengemban misi penyebaran agama Islam di Nusantara.

Sebagaimana dicatat oleh SQ Fatimi dalam “Islam Comes to Malaysia,” pada abad ke-10 terjadi migrasi keluarga-keluarga Persia ke Nusantara, yang beberapa di antaranya adalah keluarga Lor, Jawani, Syiah, dan Rumai.

Gambar Gravatar
Wartawan media online yang aktif meliput berbagai peristiwa di daerah, mulai dari isu sosial, pemerintahan lokal, hingga perkembangan terbaru yang relevan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *