Antara Teman, Sahabat, dan Kepentingan

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Oleh Oktaliansyah

DI BALIK kata “teman” dan “sahabat” yang terdengar hangat, sering kali tersembunyi satu hal yang jarang kita akui, kepentingan. Sadar atau tidak, banyak hubungan pertemanan terjalin karena ada sesuatu yang dibutuhkan satu sama lain. Entah karena pekerjaan, pergaulan, rasa nyaman, atau bahkan karena sama-sama merasa diuntungkan. Ketika dua orang punya kepentingan yang selaras dan cukup kuat, hubungan itu bisa naik level, menjadi sahabat.

Alaku

Sahabat adalah teman yang sudah melewati berbagai tahap. Ia hadir bukan hanya di saat senang, tapi juga saat sulit. Namun, realitasnya, tak sedikit hubungan yang kita anggap “persahabatan sejati” berakhir hambar bahkan retak hanya karena satu hal, kepentingan itu menghilang. Saat salah satu tidak lagi mendapat manfaat atau merasa tak lagi dibutuhkan, perlahan jarak terbentuk. Komunikasi yang dulunya intens jadi dingin. Perhatian yang dulu tulus kini hanya basa-basi. Lalu, tanpa sadar, mereka bahkan tak lagi bisa disebut teman.

Ini bukan soal siapa yang salah. Ini soal bagaimana manusia, secara naluriah, cenderung membangun koneksi berdasarkan kebutuhan. Hubungan yang tidak lagi relevan dengan kondisi hidup seseorang akan ditinggalkan, sebagaimana kita mengganti sepatu yang sudah usang. Ironis, tapi sering terjadi. Kita pernah berbagi rahasia, tawa, bahkan air mata, tapi ketika fungsi itu selesai, semua kenangan seakan hanya masa lalu yang tak penting.

Lantas, apakah semua pertemanan dan persahabatan adalah pura-pura? Tidak juga. Yang membedakan adalah kesadaran dan niat. Ada hubungan yang memang tumbuh karena kepentingan, tapi diperkuat oleh nilai-nilai seperti empati, kejujuran, dan loyalitas. Kepentingan mungkin jadi pintu masuk, tapi bukan berarti harus menjadi pondasi utama.

Seharusnya, hubungan manusia dibangun dengan keikhlasan. Tidak melulu soal untung rugi, atau siapa dapat apa. Seharusnya, kita bisa berteman karena ketulusan ingin berbagi cerita, ingin saling dukung tanpa hitung-hitungan. Ketika kepentingan hadir, jadikan itu bonus, bukan alasan utama. Sehingga saat kepentingan hilang, kita tetap punya alasan untuk bertahan, karena kita peduli, karena kita menghargai keberadaan satu sama lain.

Dunia memang tidak hitam putih. Tidak semua sahabat palsu, dan tidak semua teman tulus. Tapi jika kita mampu menyadari bahwa relasi yang sehat tidak bergantung pada apa yang kita dapatkan, melainkan pada apa yang bisa kita berikan juga, maka kita telah melampaui batasan “kepentingan.” Kita menjadi manusia yang lebih bijak dalam memilih, membina, dan merawat hubungan.

Teman dan sahabat akan datang dan pergi. Namun, jika dari awal kita meletakkan dasar kejujuran dan ketulusan, kita tidak akan terlalu kecewa saat mereka menjauh. Karena kita tahu, kita sudah memberi yang terbaik tanpa pamrih. Dan itu, lebih dari cukup.

Apakah kamu pernah mengalami persahabatan yang berubah karena kepentingan?

Penulis adalah wartawan  madya di Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *