13 Jam Menuju Enggano, Menyibak Tabir Pulau yang Katanya Terlupakan (2)
Enggano tidak diam. Enggano menjawab.
Lewat ladang-ladang yang menghijau dan ombak yang terus berdansa, Enggano berbicara, tentang harga diri, ketahanan, dan harapan yang tak bisa dibungkam.
Saya berdoa, semoga Enggano tetap lestari dalam jati dirinya, maju tanpa kehilangan akar, dan tumbuh tanpa menjadi tiruan tempat lain. Semoga perhatian dari pusat bukan hanya datang karena viral, tapi terus mengalir karena keadilan.
Sebab Enggano bukan cerita satu malam. Ia adalah wajah lain Indonesia, yang selama ini hanya tertutup debu ketidakpedulian.
Kami menulis agar pulau ini tak hanya terdengar, tapi juga dimengerti.
Penulis adalah Wartawan Provinsi Bengkulu.




