Alaku

13 Jam Menuju Enggano, Menyibak Tabir Pulau yang Katanya Terlupakan (2)

13 Jam Menuju Enggano, Menyibak Tabir Pulau yang Katanya Terlupakan (2) (foto: dok pribadi Oktaliansyah)
Daftar Isi: [Sembunyikan] [Tampilkan]

“Itu informasi yang menyesatkan. Kami waktu itu panen. Hasilnya surplus. Petani kami yang menyuplai beras di pulau ini.”

Menurut Winarto, kelaparan hanyalah narasi menyesatkan yang beredar di permukaan. Yang terjadi sebenarnya adalah berkurangnya daya beli warga, akibat pendangkalan alur Pelabuhan Pulau Baai. Kapal sulit keluar masuk. Hasil bumi tak bisa dijual ke luar.

“Yang benar, hasil ada, tapi distribusi terganggu. Itu beda jauh dengan kelaparan,” ujarnya tegas.

Kami kembali terdiam. Fakta di depan mata begitu kontras dengan bayang-bayang yang diciptakan oleh narasi digital.

Laut yang Bernyanyi, Danau Bermata Biru

Setelah itu, kami menelusuri pantai dari arah Desa Banjar Sari. Mata kami dimanjakan oleh pemandangan yang belum banyak dikenal dunia, laut berwarna biru tua dan muda bergradasi, pasir putih yang membentang halus, ombak kecil menari-nari seperti puisi yang dihembuskan angin samudra.

Tak jauh dari sana, kami tiba di sebuah danau yang disebut warga Bak Blau, atau mata biru. Danau ini terhubung langsung dengan laut. Indah, tenang, dan alami. Tempat ini seolah belum terjamah tangan industri, seperti surga kecil yang belum diberi nama dalam peta wisata.

1 2 3 4

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan