Scroll untuk baca artikel
Alaku
Alaku
Alaku
Alaku
News

Viral! Wanita di Asahan Sumut Labrak Pesta Pernikahan Suaminya! Begini Kisahnya!

×

Viral! Wanita di Asahan Sumut Labrak Pesta Pernikahan Suaminya! Begini Kisahnya!

Sebarkan artikel ini
Suaminya
Viral! Wanita di Asahan Sumut Labrak Pesta Pernikahan Suaminya! Begini Kisahnya! - foto ilustrasi

Kegembiraan keluarga dan tamu undangan dalam sebuah pesta pernikahan di Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, tiba-tiba berubah menjadi kekacauan ketika seorang wanita tiba-tiba merusak masuk ke lokasi acara. Wanita tersebut berteriak bahwa mempelai pria adalah suaminya.

Video kejadian tersebut diambil dan viral setelah diunggah di media sosial Facebook. Lokasi pesta pernikahan tersebut disebutkan terjadi di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan.

Dalam video yang telah dilihat oleh detikSumut pada malam Minggu (9/7/2023), unggahan tersebut telah dibagikan lebih dari 470 kali. Terlihat seorang wanita yang mengenakan kerudung, berbaju hitam, dan menggunakan masker tiba di lokasi rumah acara pernikahan tersebut.

Setelah beberapa saat, seorang pria dalam baju adat merah keluar dari pintu rumah. Pria tersebut diduga sebagai suami dari wanita yang datang dengan baju hitam.

Mendapati situasi yang kacau, seorang ibu yang menggendong anak berbaju ungu, diduga sebagai tuan rumah acara tersebut, mempertanyakan maksud kedatangan wanita berbaju hitam tersebut. Keributan pun tak dapat dihindari.

Suara dalam video terdengar wanita berbaju hitam menjelaskan kepada ibu berbaju ungu bahwa anaknya telah ditelantarkan. Beberapa orang berusaha menenangkan wanita tersebut dan mengarahkannya menjauh dari lokasi acara.

detikSumut kemudian mencari informasi tentang kejadian ini dan berhasil menghubungi Silvia, wanita berkerudung hitam dalam video tersebut. Silvia menceritakan bahwa pria yang menjadi mempelai pria dalam pesta pernikahan tersebut masih sah sebagai suaminya.

“Kami belum bercerai. Dia meninggalkan saya begitu saja dan menelantarkan anak kami sejak saya hamil anak kedua,” kata Silvia.

Silvia menjelaskan bahwa suaminya pergi setelah ketahuan berselingkuh, dan selama tiga tahun ia tidak pernah memberikan nafkah kepada Silvia dan anak-anaknya. Hingga saat ini, Silvia mengungkapkan bahwa ia belum menerima permintaan perceraian dari suaminya.

“Iya, kami belum bercerai. Dia meninggalkan kami begitu saja dan anak kedua kami sudah berusia satu tahun lima bulan,” ungkapnya.

Silvia baru mengetahui bahwa suaminya telah menikah lagi setelah melihat undangan pesta pernikahan yang diunggah di Facebook. Hal ini membuatnya marah dan langsung menghadang suaminya di pesta pernikahannya, bahkan membawa anak pertamanya yang berusia lima tahun.

“Setelah itu, saya langsung membuat laporan ke Polres Asahan tentang penelantaran anak,” ujarnya.

Laporan dari Silvia memiliki nomor STTLP/524/VII/2023/SPKT/POLRES ASAHAN/ POLDA SUMUT. Silvia berharap bahwa laporan tersebut akan diproses dan suaminya akan dihadapkan pada hukum atas tindakan pelanggaran terhadap undang-undang tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) berupa penelantaran anak.

Dalam laporan tersebut, Silvia berharap agar suaminya dapat diproses hukum karena melanggar hukum dengan melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga berupa penelantaran anak. Silvia ingin memastikan bahwa suaminya bertanggung jawab atas perbuatannya dan anak-anak mereka menerima perlindungan yang layak.

Kasus ini juga menjadi perhatian masyarakat dan mengundang perbincangan luas tentang pentingnya perlindungan terhadap anak dan pencegahan tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Diharapkan bahwa tindakan Silvia untuk melaporkan kasus ini dapat menjadi langkah awal untuk mendapatkan keadilan bagi dirinya dan anak-anaknya, serta memberikan peringatan bagi mereka yang melakukan tindakan serupa.

Pihak berwenang diharapkan akan mengambil tindakan yang tepat dan melibatkan lembaga terkait untuk memastikan bahwa pelaku bertanggung jawab atas perbuatannya. Dalam proses ini, penting bagi semua pihak yang terlibat untuk memberikan dukungan kepada Silvia dan keluarganya, serta memastikan bahwa hak-hak mereka terlindungi dan keadilan ditegakkan.

Kisah ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan dalam rumah tangga dan pentingnya mendukung korban dalam mencari bantuan dan melaporkan kejadian tersebut. Dalam masyarakat yang peduli dan bertanggung jawab, tindakan kekerasan dalam rumah tangga tidak dapat dibiarkan dan harus diperangi dengan langkah-langkah yang tegas dan efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *