“Kalau ini terus berlanjut sampai sebulan, perempuan-perempuan di sini akan sangat kesulitan menyambung hidup,” ucapnya lirih.
Tak hanya kebutuhan pokok, dunia pendidikan juga terganggu. Banyak siswa dan guru terjebak di Kota Bengkulu dan tak bisa kembali ke pulau. Bahkan, Sonia Agustin, mahasiswi Poltekkes Bengkulu, gagal berangkat untuk menyelesaikan skripsi. “Saya seharusnya masuk kuliah 8 April. Tapi kapal tak ada. Saya mohon perhatian pemerintah,” katanya.
AMAN: Harus Ada Mitigasi Darurat Sekarang!
Fahmi Arisandi, Ketua Harian AMAN Bengkulu, mendesak pemerintah bertindak cepat. “Pendangkalan pelabuhan seharusnya diimbangi mitigasi yang konkret. Rakyat Enggano bergantung penuh pada kapal. Kalau tak segera ditangani, ini bisa menjadi bencana kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa transportasi udara belum memadai, sementara kebutuhan pokok, layanan pendidikan dan kesehatan di Enggano masih sepenuhnya bertumpu pada transportasi laut.
“Jangan anggap enteng. Ribuan orang di Enggano kini dalam situasi hidup darurat. Tindakan cepat bukan pilihan lagi, tapi keharusan!” tutup Fahmi Arisandi.






