Selain itu, pihaknya juga berencana menggelar berbagai lomba Nyambei dari tingkat sekolah hingga kabupaten bahkan nasional. “Dengan cara ini, kami ingin budaya Nyambei tidak hanya lestari, tetapi juga semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia,” kata Zakaria.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa pendaftaran Nyambei sebagai WBTB merupakan bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap pelestarian nilai budaya lokal. “Langkah ini bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga mendukung visi Rejang Lebong sebagai tujuan wisata budaya menuju masyarakat yang bahagia dan istimewa,” tutupnya.
Sekilas Tentang Nyambei: Warisan Sastra Lisan Rejang
Nyambei adalah sastra lisan tradisional masyarakat Rejang yang telah ada jauh sebelum pengaruh luar masuk ke wilayah Bengkulu bagian tengah. Dahulu, tradisi ini menjadi hiburan bagi para bujang dan gadis dalam berbagai acara adat dan hajatan masyarakat.
Lebih dari sekadar hiburan, Nyambei adalah ajang berbalas pantun, perkenalan, serta ekspresi perasaan melalui untaian bahasa yang indah dan sarat makna. Bahasa yang digunakan merupakan perpaduan antara bahasa Rejang dengan unsur Jawa, menciptakan dialek khas yang kaya nilai sastra.

Pertunjukan Nyambei biasanya diiringi alat musik tradisional kulintang yang disebut jenggung, menciptakan suasana hangat dan meriah di malam hari. Dalam tradisi ini dikenal istilah pengela (pembuka syair) dan andak (penutup dengan irama berbeda).
Menariknya, tradisi Nyambei bahkan pernah dicatat dalam karya William Marsden berjudul The History of Sumatra (1785), menandakan bahwa kesenian ini telah hidup lebih dari dua abad. Kini, meski perannya mulai bergeser menjadi pengiring tari tradisional, semangat Nyambei tetap hidup sebagai simbol keindahan bahasa, kecerdasan lokal, dan romantika budaya Rejang yang tak lekang oleh waktu.
Halaman : 1 2
Tinggalkan Balasan