Membunyikan Jari, Ini Penjelasan Medis soal Bunyi Kretek dan Risikonya

Jakarta – Kebiasaan membunyikan jari kerap menimbulkan suara “kretek” yang bagi sebagian orang terasa memuaskan, tetapi bagi lainnya dianggap mengganggu. Di balik anggapan tidak sopan yang berkembang di sejumlah budaya,...

Membunyikan Jari, Ini Penjelasan Medis soal Bunyi Kretek dan Risikonya Artikel & Ragam
Membunyikan Jari, Ini Penjelasan Medis soal Bunyi Kretek dan Risikonya (foto:canva)
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar

Jakarta – Kebiasaan membunyikan jari kerap menimbulkan suara “kretek” yang bagi sebagian orang terasa memuaskan, tetapi bagi lainnya dianggap mengganggu. Di balik anggapan tidak sopan yang berkembang di sejumlah budaya, penjelasan medis menunjukkan aktivitas tersebut berkaitan dengan mekanisme alami pada persendian.

Mengutip laporan detik, suara saat membunyikan jari sering dipersepsikan serupa dengan bunyi alami tubuh lainnya yang kurang disukai di ruang publik. Ahli bedah spesialis tangan, pergelangan tangan, dan siku di Rush University Medical Center, Dr John Fernandez, menyebut reaksi itu lebih pada persepsi sosial, bukan karena membunyikan jari berbahaya.

Ia menjelaskan, secara ilmiah bunyi pada persendian muncul akibat proses normal di dalam sendi. Struktur jari terdiri atas tulang-tulang yang saling terhubung melalui sendi, dilapisi tulang rawan, dan dibungkus selaput berisi cairan pelumas bernama sinovial. Cairan ini berfungsi mengurangi gesekan dan memungkinkan pergerakan yang halus.

Advertisement

Konsistensi cairan sinovial disebut mirip minyak zaitun dan mengandung gas seperti oksigen, karbon dioksida, serta nitrogen yang juga terdapat dalam aliran darah. Saat seseorang meregangkan atau menekuk jari hingga terdengar bunyi, jarak antar tulang di sendi meningkat dan tekanan di dalamnya menurun.

Penurunan tekanan tersebut memicu gas terlarut dalam cairan sinovial membentuk gelembung melalui proses yang dikenal sebagai “kavitasi.” Fenomena ini sejalan dengan Hukum Henry, yang menjelaskan bahwa jumlah gas terlarut dalam cairan dipengaruhi tekanan. Ketika tekanan berkurang, gas membentuk gelembung, serupa dengan soda yang berbuih saat kaleng dibuka.

Sejumlah kekhawatiran menyebut kebiasaan membunyikan jari dapat memicu osteoartritis atau radang sendi. Namun, hingga kini klaim tersebut tidak terbukti secara ilmiah. Seorang dokter, Dr. Donald L. Unger, bahkan melakukan kebiasaan membunyikan buku jarinya selama lebih dari 60 tahun sambil mendokumentasikan kondisinya. Hasil pengamatannya tidak menunjukkan peradangan maupun dampak negatif pada sendinya.

Meski begitu, membunyikan jari tidak dapat dilakukan berulang kali dalam waktu singkat. Fernandez menerangkan bahwa gelembung gas yang terbentuk dan pecah terjadi hampir bersamaan, sehingga sulit diamati bahkan dengan MRI canggih. Selain itu, jumlah gas dalam cairan sinovial terbatas.

“Anda harus menunggu sekitar 15 hingga 20 menit agar gas larut kembali ke dalam cairan sebelum Anda membunyikannya lagi,” ujar Fernandez.

Tidak semua orang mampu menghasilkan bunyi saat membunyikan jari. Faktor kelenturan sendi dan kebiasaan turut memengaruhi. “Ini hampir seperti belajar bersiul. Bersiul akan terasa mudah jika paham tekniknya. Seperti halnya membunyikan buku jari, akan terasa mudah saja bagi orang yang sudah biasa,” ungkapnya.

Dengan demikian, membunyikan jari secara medis dipandang sebagai respons alami sendi dan tidak terbukti memicu gangguan seperti radang sendi. Meski relatif aman, kebiasaan membunyikan jari tetap perlu mempertimbangkan norma sosial di lingkungan sekitar.

Follow WhatsApp Group repoeblik.com untuk Notifikasi Berita Terbaru Setiap Hari
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement