9 Mar 2026 19:31 - 2 menit membaca

BMKG Prediksi Musim Kemarau Bengkulu Mulai Juni 2026

Bagikan

Bengkulu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau Bengkulu akan mulai terjadi pada Juni 2026, bersamaan dengan sejumlah wilayah lain di Sumatera dan Kalimantan.

Informasi mengenai musim kemarau Bengkulu tersebut disampaikan BMKG dalam proyeksi musim kemarau nasional 2026 yang dikutip dari laporan Detik. Secara keseluruhan, sebanyak 325 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 46,5 persen wilayah di Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal dari biasanya.

BMKG juga mencatat sebanyak 173 ZOM atau 24,7 persen wilayah akan memasuki musim kemarau sesuai waktu normal. Sementara itu, 72 ZOM atau sekitar 10,3 persen daerah diprediksi mengalami awal musim kemarau yang lebih lambat dibandingkan pola klimatologis biasanya.

Dalam rincian yang dipublikasikan melalui akun resmi @infobmkg, sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026. Daerah yang termasuk dalam kelompok ini antara lain Jawa Barat bagian utara, pesisir utara dan selatan Jawa Tengah, sebagian besar Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil Sulawesi Selatan.

Alaku

Pada Mei 2026, sekitar 26,3 persen wilayah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau. Beberapa daerah yang termasuk dalam periode ini antara lain Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, Riau bagian tenggara, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga sebagian wilayah Papua.

Sementara itu, musim kemarau Bengkulu diprediksi terjadi mulai Juni 2026. Wilayah lain yang memasuki musim kemarau pada periode tersebut antara lain Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, sebagian Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta sejumlah wilayah di Sulawesi, Maluku, dan Papua.

BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau 2026 akan berlangsung antara Juli hingga September. Waktu puncak tersebut berbeda di setiap daerah, tergantung kondisi iklim dan karakteristik wilayah masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *