Bengkulu – Bengkulu bumi merah putih menjadi gagasan yang diusung Gubernur terpilih Helmi Hasan, mendapat dukungan dari Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra.
Dalam pertemuan di kantor Menko Kumham Imipas, Rabu (12/2/2025), Yusril menyampaikan dukungannya terhadap visi besar Helmi Hasan dalam membangun Bengkulu.
“Saya senang sekali bertemu dengan gubernur terpilih,” ujar Yusril.
Harapan Bengkulu Menuju Bumi Merah Putih
Sebagai seorang profesor hukum, Yusril berharap Helmi Hasan dapat membawa perubahan positif bagi Bengkulu. Ia mendukung penuh upaya menjadikan Bengkulu bumi merah putih sebagai identitas baru provinsi ini.
“Dengan semangat juang yang tinggi, saya yakin Bengkulu akan maju dan semakin berkembang di masa yang akan datang,” kata Yusril.
Sebelumnya, Helmi Hasan menjelaskan bahwa gagasan ini terinspirasi dari sejarah Fatmawati, putri asli Bengkulu, yang menjahit bendera merah putih pertama Indonesia.
Helmi meyakini bahwa Merah Putih lebih tepat dibandingkan dengan julukan sebelumnya, Rafflesia.
Dengan dukungan dari Menko Yusril, gagasan tersebut semakin menguat sebagai identitas baru yang mengangkat nilai sejarah dan nasionalisme masyarakat Bengkulu.
Usulan dari Rektor UIN FAS Bengkulu
Usulan ini datang dari Rektor Universitas Islam Negeri Fatmawati Soekarno (UIN FAS) Bengkulu dan mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Bengkulu. Gubernur Bengkulu terpilih, Helmi Hasan, juga mendukung penuh ide tersebut.
Perubahan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa “Rafflesia” berasal dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Sir Thomas Stamford Raffles, yang erat kaitannya dengan masa penjajahan. Sementara itu, Bengkulu bumi merah putih lebih mencerminkan nilai nasionalisme dan sejarah Bengkulu sebagai tempat lahirnya bendera Merah Putih, yang dijahit oleh Fatmawati Soekarno.
Pj Sekda Provinsi Bengkulu, Haryadi, menjelaskan bahwa nama baru ini akan memperkuat identitas daerah.
“Penamaan ini akan memperkuat identitas Bengkulu, menjadi Bumi Merah Putih,” ujar Haryadi.
Ia menambahkan bahwa sejarah Bengkulu erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama dengan peran besar Fatmawati Soekarno. Oleh karena itu, pergantian ikon ini diharapkan semakin memperkuat nilai perjuangan dan kebanggaan masyarakat Bengkulu.
Gubernur terpilih Helmi Hasan juga menyatakan bahwa perubahan ini bertujuan untuk membangun energi positif dan meningkatkan daya saing Bengkulu di masa depan.
“Alasan utama adalah karena simbol Rafflesia yang selama ini digunakan kurang tepat, mengingat bunga tersebut dikaitkan dengan masa penjajahan. Sebaliknya, Bumi Merah Putih mencerminkan nilai perjuangan dan kebanggaan Bengkulu,” ujar Helmi, Kamis (30/1/2025).
Ia mencontohkan beberapa perubahan nama di Indonesia, seperti Sunda Kelapa yang menjadi Jayakarta pada tahun 1527, kemudian berubah menjadi Batavia oleh VOC pada 1619, sebelum akhirnya diubah kembali menjadi Jakarta pada 1942.
Selain itu, Papua yang dulunya disebut Nederlands Nieuw-Guinea atau Nugini Belanda, juga diganti menjadi IRIAN (Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland) oleh Presiden Soekarno.
“Jadi pergantian Bumi Rafflesia menjadi Bumi Merah Putih sangat sesuai dengan keinginan bangsa kita,” tutup Helmi.







