Akhir Alam Semesta Diprediksi Lebih Cepat, Ilmuwan Hitung Sisa Waktu Kosmik
Dalam teorinya, Hawking menyatakan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya gelap, melainkan memancarkan radiasi dan perlahan menguap seiring waktu, layaknya aspirin yang larut dalam segelas air. Ilmuwan Radboud kemudian memperluas gagasan ini ke berbagai objek kosmik lain dengan menghitung bahwa laju penguapan ditentukan oleh tingkat kepadatan masing-masing benda langit.
Melalui pendekatan tersebut, para peneliti secara teoretis dapat memperkirakan kapan kerdil putih, yang dianggap sebagai objek paling tahan lama di alam semesta, akhirnya akan lenyap. Rekan penulis Walter van Suijlekom menyebut kajian ekstrem ini penting untuk pendalaman teori dasar fisika. “Dengan mengajukan pertanyaan semacam ini dan melihat kasus-kasus ekstrem, kami ingin memahami teori ini dengan lebih baik, dan mungkin suatu hari nanti, kami bisa memecahkan misteri radiasi Hawking,” ujarnya.
Meski terdengar mengkhawatirkan, para ilmuwan menegaskan manusia tidak perlu cemas menghadapi akhir alam semesta. Bahkan jika umat manusia mampu meninggalkan Bumi dan menjelajah antarbintang, peradaban saat ini diperkirakan sudah lama punah jauh sebelum proses kosmik tersebut terjadi.




