Wali Songo Melokalkan Bahasa Arab untuk Dakwah Islam di Tanah Jawa

Jakarta – Peran Wali Songo dalam sejarah Islam Nusantara tidak hanya terlihat dari penyebaran ajaran agama, tetapi juga dari strategi kebahasaan yang digunakan untuk mendekatkan Islam kepada masyarakat Jawa. Sejumlah...

Wali Songo Melokalkan Bahasa Arab untuk Dakwah Islam di Tanah Jawa Artikel & Ragam
Wali Songo Melokalkan Bahasa Arab untuk Dakwah Islam di Tanah Jawa (foto:historia.id)
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar

Jakarta – Peran Wali Songo dalam sejarah Islam Nusantara tidak hanya terlihat dari penyebaran ajaran agama, tetapi juga dari strategi kebahasaan yang digunakan untuk mendekatkan Islam kepada masyarakat Jawa. Sejumlah istilah yang kini lazim digunakan umat Islam di Indonesia ternyata merupakan hasil pelokalan bahasa Arab yang dilakukan para wali agar ajaran baru lebih mudah diterima.

Seperti dirangkum dari detik, Wali Songo mengadaptasi istilah-istilah Arab dengan menyerap unsur Kapitayan serta Hindu-Buddha yang telah lebih dulu hidup di tengah masyarakat. Pendekatan ini bertujuan agar istilah keagamaan terdengar akrab dan tidak terasa asing di telinga masyarakat Jawa pada masa awal Islamisasi.

Dalam buku Sejarah Lengkap Islam Jawa karya Husnul Hakim dijelaskan, lembaga pendidikan Syiwa-Buddha yang dikenal sebagai dukuh serta padepokan Kapitayan kemudian dikembangkan menjadi pusat pendidikan Islam. Sunan Ampel bersama wali lainnya mengubah istilah dukuh dan padepokan menjadi pesantrian, yang selanjutnya dikenal luas sebagai pesantren.

Sunan Ampel juga melakukan penyesuaian istilah lain, seperti mengubah sebutan susuhunan menjadi sunan. Istilah sashtri dan cantrik diserap menjadi santri. Upaya pelokalan ini dilakukan agar struktur pendidikan Islam terasa dekat dengan tradisi lokal, tanpa menghilangkan substansi ajaran.

Selain itu, Wali Songo memperkenalkan berbagai padanan istilah Arab dengan bahasa lokal. Di antaranya susuhunan untuk menggantikan asy-syekh, kiai sebagai padanan al-‘alim, guru untuk al-ustaz, pesantren untuk ma’had, serta santri untuk murid atau salik. Istilah sembahyang dipakai sebagai pengganti shalat, puasa untuk ash-shaum, sunat untuk khitan, langgar untuk mushalla, swarga untuk jannah, neraka untuk nar al-jahannam, dan bidadari sebagai padanan hur.

Tidak hanya itu, sejumlah kosakata Arab juga diserap dengan tetap mempertahankan istilah lokal namun diberi makna baru. Kata sabar digunakan untuk mendekatkan makna shabr, ikhlas untuk ikhlas, adil untuk ‘adil, lila untuk ridha, andap asor untuk tawadhu’, guyub rukun untuk ukhuwah, sederhana untuk wara’, nerima untuk qanaah, eling untuk dzikir, serta pasrah untuk lillah.

Pengaruh bahasa lain turut mewarnai proses Islamisasi. Dikutip dari buku Tanya Jawab Seputar Atlas Wali Songo karya KH Agus Sunyoto, beberapa istilah yang dipengaruhi bahasa Persia dan India juga dikenal luas hingga kini, seperti kenduri (kanduri), istana (astana), dan bandar (pelabuhan).

Dalam perjalanan dakwahnya, Wali Songo dikenal sebagai sembilan tokoh ulama yang menyebarkan Islam di Jawa dengan pendekatan beragam, mulai dari pendidikan, tradisi, hingga seni. Strategi tersebut terbukti efektif membuat masyarakat Jawa secara bertahap menerima Islam tanpa gejolak sosial yang besar.

Para wali memiliki latar belakang dan metode dakwah yang berbeda. Sunan Gresik dikenal sebagai perintis penyebaran Islam di Jawa, Sunan Ampel sebagai pendidik dan pemimpin Wali Songo, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga memanfaatkan seni sebagai sarana dakwah, sementara Sunan Drajat menonjolkan kegiatan sosial. Sunan Kudus menampilkan toleransi tinggi terhadap pemeluk Hindu-Buddha, Sunan Giri berperan dalam pendidikan dan dakwah ke wilayah timur Jawa, Sunan Muria menyasar masyarakat pedesaan, dan Sunan Gunung Jati berpengaruh besar di Jawa Barat.

Pendekatan dakwah yang adaptif dan kultural inilah yang membuat ajaran Islam dapat mengakar kuat di Nusantara. Hingga kini, warisan Wali Songo tidak hanya tercermin dalam sejarah, tetapi juga dalam bahasa dan istilah keagamaan yang masih digunakan luas oleh masyarakat Indonesia.

Follow WhatsApp Group repoeblik.com untuk Notifikasi Berita Terbaru Setiap Hari
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *