
“Kalau dulu yang ikut itu masyarakat kita saja. Tapi setelah dikenal, ada orang luar yang ingin mencoba. Semasih ada waktu kita ajak, kalau tidak ya tidak kita ajak. Setelah masyarakat kami semua dapat, baru kita ajak orang luar,” kata I Putu Suarjana.
Tradisi Mekare-Kare ini telah menjadi daya tarik wisata yang signifikan di Bali. Wisatawan dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong datang untuk menyaksikan dan ikut merasakan keunikan tradisi ini. Hal ini memperlihatkan bahwa sambil melestarikan warisan budaya mereka, masyarakat Desa Tenganan juga merangkul dunia luar untuk berbagi pengalaman yang tak terlupakan dalam tradisi yang mempesona ini.
Tradisi Mekare-Kare bukan hanya merupakan pertunjukan visual, tetapi juga menunjukkan keseimbangan yang indah antara warisan budaya dan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Bagi masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan, Mekare-Kare adalah bukti bahwa kekayaan budaya mereka terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Penulis : Affif Dwi As’ari
Editor : Affif Dwi As’ari
Tinggalkan Balasan