
Saat cahaya matahari merona di langit Bali, sebuah ritual yang unik dan berkesan sedang berlangsung di Desa Tenganan Pegringsingan. Di tengah sorakan dan kegembiraan, remaja putri dari desa ini memiliki tugas penting dalam persiapan dan pelaksanaan tradisi Mekare-Kare, yang merupakan Perang Pandan.
Sebagai bagian dari persiapan sebelum Perang Pandan dimulai, remaja putri bertugas untuk membuat ramuan tradisional yang disebut “Boreh.” Boreh adalah ramuan yang nantinya akan digunakan untuk mengobati luka akibat sayatan duri pandan, yang mungkin terjadi selama pertempuran. Ramuan ini dibuat dari bahan-bahan alami seperti kunyit, lengkuas, bangle, dan cuka, yang dicampur menjadi satu. Boreh ini adalah salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan peserta setelah pertempuran.
I Putu Suarjana dari Tamping Takon Tebenan Desa Tenganan menjelaskan, “Remaja putri bertugas membuat boreh, yang digunakan untuk mengobati luka akibat duri pandan. Ini adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan peserta dan memastikan bahwa mereka dapat pulih dengan baik setelah pertempuran.”
Tradisi Mekare-Kare ini merupakan peristiwa yang sangat berarti bagi masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan. Semangat dan dedikasi yang mereka tanamkan dalam ritual ini adalah cerminan dari hubungan erat mereka dengan nilai-nilai tradisional dan budaya Hindu, serta komitmen mereka untuk menjaga warisan budaya mereka yang berharga.
Walaupun Mekare-Kare adalah tradisi kuno yang telah ada selama berabad-abad, semangat dan antusiasme masyarakat untuk mempertahankannya tetap kuat. Wisatawan, yang juga tertarik untuk ikut serta dalam perang pandan, diperbolehkan untuk bergabung, namun masyarakat lokal Desa Tenganan tetap menjadi yang utama.
Tinggalkan Balasan