
I Putu Suarjana, seorang anggota Tamping Takon Tebenan Desa Tenganan, menjelaskan, “Ngastiti ini dilakukan untuk memohon kesuksesan acara ini. Jadi remaja putra dan putri pergi ke puncak gunung karena di sana terdapat tempat suci potongan kuda Oncesrawa.”
Ritual Ngastiti adalah langkah awal yang melibatkan remaja putra dan putri dari Desa Tenganan. Mereka melakukan perjalanan ke puncak gunung yang dianggap sebagai tempat suci yang penuh makna. Di sana, mereka menghaturkan kelapa muda sebagai tanda penghormatan kepada para dewa, khususnya dewa Oncesrawa yang dipercayai memiliki peran penting dalam kesuksesan tradisi Mekare-Kare.
Setelah Ngastiti selesai, remaja putra diamanahi tugas untuk mencari daun pandan berduri. Daun pandan yang ditemukan harus memiliki panjang sekitar 30 cm, dan nantinya akan digunakan sebagai senjata dalam Perang Pandan. Remaja putra yang akan berperang juga akan dilengkapi dengan tameng untuk bertahan selama pertempuran.
I Putu Suarjana menjelaskan, “Kenapa perang pandan yang bertanggung jawab adalah remaja putra. Pertama, remaja putra akan merubah watak atau sifat dari anak-anak menjadi remaja. Kedua, remaja putra sudah bisa membedakan mana musuh dan mana teman. Ketiga, remaja putra sudah mempersiapkan diri untuk berkeluarga.”
Perang Pandan sendiri akan berlangsung selama sekitar 5 hingga 7 menit, dihentikan ketika salah satu peserta menyatakan menyerah atau ada yang mengalami luka akibat duri pandan. Tradisi Mekare-Kare ini selalu diiringi oleh tetabuhan khas Desa Tenganan, yaitu gamelan selonding, menciptakan atmosfer yang khusyuk dan seremonial.
Tinggalkan Balasan