Bengkulu – Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, kembali menyita perhatian publik setelah mengumumkan dua rencana kebijakan kontroversial yang akan diterapkan di Provinsi Bengkulu. Pertama, larangan pelajar membawa kendaraan bermotor ke sekolah. Kedua, rencana pembinaan anak-anak bermasalah melalui sistem camp berbasis agama dan kedisiplinan.
Kebijakan larangan pelajar membawa motor ke sekolah ini terinspirasi dari langkah inovatif Gubernur Jawa Barat, Kang Dedy Mulyadi (KDM). Menurut Helmi, ide tersebut sangat positif dan layak diadaptasi di Bengkulu demi keselamatan para pelajar.
“Insya Allah, jika itu hal baik, kenapa tidak kita duplikasi? Gubernur Jabar KDM itu sosok yang inovatif, penuh dengan gagasan positif,” ujar Helmi, (4/5).
Ia menambahkan, Pemprov Bengkulu saat ini sedang mengkaji mekanisme penerapannya secara matang. Apalagi, baru-baru ini dua siswi di Bengkulu meninggal dunia akibat tersenggol truk batubara saat berkendara ke sekolah.
Helmi menyoroti banyaknya pelajar yang belum cukup umur, tidak memiliki SIM, dan tidak menggunakan helm saat berkendara. “Ini sangat membahayakan keselamatan mereka sendiri dan pengguna jalan lainnya,” tegasnya.
Ia juga melihat sisi lain dari larangan tersebut. “Jika pelajar berjalan kaki ke sekolah, mereka akan bangun lebih pagi, lebih sehat, dan tumbuh kebersamaan tanpa sekat antara si kaya dan si miskin.”
Selain itu, Gubernur Helmi juga menggagas pembinaan anak-anak yang dianggap “nakal” di Bengkulu melalui pendekatan berbasis agama dan disiplin. Anak-anak tersebut nantinya akan ditempatkan di camp sesuai agama masing-masing, setelah mendapat izin dari orang tua.
“Anak-anak akan dibina, bukan dipenjara. Misalnya anak Muslim akan dibina di masjid, anak Nasrani di gereja, dan begitu pula agama lainnya,” ungkapnya.
Program ini akan melibatkan kolaborasi antara Pemprov, TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh agama, dan pengurus rumah ibadah. “TNI melatih disiplin, polisi memberikan edukasi hukum, dan tokoh agama membimbing secara spiritual,” jelas Helmi.
Kebijakan ini pernah diterapkannya saat menjabat sebagai Wali Kota Bengkulu, dan terbukti berhasil. Ia menceritakan satu kasus di mana seorang anak yang awalnya kasar kepada orang tuanya, berubah total setelah mengikuti pembinaan. “Anak itu kemudian menangis, memeluk kaki orang tuanya, dan minta maaf. Karena sebelumnya ia tidak pernah diajarkan agama,” kisah Helmi.
Meski menuai pro dan kontra, Helmi Hasan menegaskan pihaknya tidak akan sibuk meladeni kritik tanpa solusi. “Silakan masyarakat menilai. Kami siap menerima masukan, tapi fokus kami tetap membangun generasi yang lebih baik untuk Bengkulu.”





