Bengkulu – Upaya menjaga ketertiban dan kenyamanan ruang publik kembali ditegaskan Pemerintah Kota Bengkulu melalui pengawasan langsung di kawasan Pasar Minggu, Jalan KZ Abidin II. Aktivitas pedagang yang kembali memanfaatkan Daerah Milik Jalan (DMJ) menjadi perhatian serius karena dinilai mengganggu ketertiban lalu lintas dan wajah kota.
Pengawasan tersebut ditandai dengan pelaksanaan apel pagi Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bengkulu di depan Mega Mall, Selasa (27/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pola patroli dan apel keliling yang rutin dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan di lokasi-lokasi rawan pelanggaran.
“Ini kegiatan yang rutin dilakukan. Pola yang kami lakukan adalah patroli dan apel keliling. Apel di suatu lokasi berarti di situ ada sesuatu yang perlu dibenahi atau ditertibkan,” ujar Sahat.
Ia menjelaskan, Pasar Minggu kembali menjadi titik apel karena masih ditemukan pedagang yang nekat berjualan di DMJ, meskipun telah terdaftar dan memiliki lapak resmi di dalam Pasar Tradisional Modern (PTM).
“Kondisi yang kita lihat tadi, pedagangnya mulai kembali melanggar berjualan di daerah milik jalan. Sementara mereka sudah disediakan tempat dan punya lapak di dalam pasar, tapi tetap saja berupaya melanggar,” tegasnya.
Usai apel, petugas Satpol PP langsung melakukan peneguran sekaligus penertiban terhadap pedagang yang tetap melanggar. Langkah ini juga menjadi tindak lanjut atas laporan masyarakat yang mengeluhkan kondisi ketertiban di kawasan tersebut.
“Dengan pola apel seperti ini, kita melihat langsung laporan-laporan masyarakat. Masyarakat menyampaikan keadaan yang tidak baik, kita apel di situ, lalu kita perbaiki di situ,” tambahnya.
Melalui penegakan aturan yang konsisten, Sahat berharap wajah Kota Bengkulu ke depan semakin tertata dan nyaman. Menurutnya, ketertiban kota bukan hanya untuk warga, tetapi juga membentuk kesan positif bagi setiap tamu yang datang.
“Kita ingin Kota Bengkulu menjadi kota yang tertib, bersih, indah, tanpa kemacetan, dan semuanya pada tempatnya. Jika kesan baik ini mereka bawa pulang ke daerah asalnya, maka itu menjadi cerita baik tentang Kota Bengkulu,” tutup Sahat.





