Polres Musi Rawas, Sumsel, bersama Forkompinda menggelar Sholat Istisqa pada Jumat (15/9/2023) di Halaman Mapolres Musi Rawas. Sholat Istisqa dilaksanakan sebagai upaya memohon rahmat dari Allah untuk mendatangkan hujan dan mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Kegiatan Sholat Istisqa diikuti oleh sekitar 100 personil, termasuk anggota Polres Musi Rawas, TNI, pejabat Pemerintah Kabupaten Musi Rawas, dan instansi vertikal lainnya.
Wakapolres Musi Rawas, Kompol M Harsono, menyatakan bahwa Sholat Istisqa merupakan inisiatif pemerintah dan Forkompinda untuk memohon rahmat Allah. Mereka berdoa agar semua bencana yang tengah melanda, seperti musim kekeringan dan kebakaran hutan, dapat diatasi.
Selain Sholat Istisqa, Polres Musi Rawas juga telah mengambil langkah lain dalam penanggulangan dan pencegahan Karhutla. Mereka telah mendistribusikan anggota Satbrimob Sumsel ke 9 Polsek untuk memberikan himbauan kepada warga yang membuka lahan dan melakukan upaya pencegahan.
Wakapolres juga mengingatkan bahwa saat ini terdapat banyak faktor yang menyebabkan Karhutla, termasuk kesadaran masyarakat yang masih rendah dan kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan. Faktor alam, seperti musim kemarau berkepanjangan, juga menjadi penyebab potensial.
Dalam usahanya mengatasi Karhutla, Polres Musi Rawas berharap agar doa mereka dalam Sholat Istisqa dapat diijabah oleh Allah, sehingga hujan turun dan membantu mengakhiri bahaya asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Sebelumnya, Kapolres Musi Rawas, AKBP Danu Agus Purnomo, mengungkapkan bahwa hingga September, terdapat 348 titik hotspot di Musi Rawas dengan tingkatan rendah, sedang, dan tinggi. Peningkatan titik hotspot ini terjadi sejak awal Agustus hingga September, yang mencerminkan dampak asap yang dirasakan oleh masyarakat setempat.
Dalam upaya pencegahan Karhutla, semoga Sholat Istisqa menjadi salah satu langkah yang membawa berkah dan membantu melindungi Musi Rawas dari bencana kebakaran hutan dan lahan.
Kapolres Musi Rawas, AKBP Danu Agus Purnomo, mengungkapkan bahwa hingga September ini, daerah Musi Rawas telah mencatat sebanyak 348 titik hotspot dengan tingkatan yang bervariasi, meliputi tingkatan rendah, sedang, dan tinggi. Peningkatan titik hotspot ini terjadi sejak awal Agustus hingga September, dan hal ini mencerminkan dampak serius yang dirasakan oleh masyarakat setempat.
Kondisi ini menciptakan situasi yang rawan terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kapolres Danu Agus Purnomo menjelaskan bahwa wilayah tersebut telah mengalami musim kekeringan berkepanjangan, dan dampaknya sangat terasa, khususnya dalam hal peningkatan titik hotspot.
Para petugas dan pihak berwenang telah mengambil berbagai tindakan pencegahan untuk mengatasi Karhutla, termasuk mengirimkan anggota Satuan Brimob Sumsel ke 9 Polsek di wilayah tersebut untuk memberikan himbauan kepada warga yang membuka lahan. Namun, situasi ini tetap menantang karena faktor-faktor seperti kesadaran masyarakat yang masih rendah dan kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan.
Kapolres mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam menghadapi situasi Karhutla, serta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran. Ia juga menyoroti dampak negatif asap yang meresahkan masyarakat sekitar dan memengaruhi kualitas udara.
Upaya penanganan Karhutla terus dilakukan dengan harapan agar situasi dapat segera terkendali dan bahaya Karhutla dapat dicegah.





