Bengkulu – Progres pengerukan (dredging) alur Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu yang dikerjakan Kapal Keruk CSD Costa Fortune 3 kembali menjadi sorotan. Hingga kini, kedalaman alur pelayaran baru mencapai kisaran 2,9 meter, masih jauh dari target 4 meter yang dijanjikan manajemen Pelindo pada tahap pertama.
Sejumlah pengguna jasa pelabuhan dan pelaku logistik menyatakan kekecewaannya. Mereka menilai perbaikan kedalaman alur yang diharapkan mampu memperlancar arus barang belum menunjukkan hasil menggembirakan. “Kapal dengan draft sedikit lebih dalam masih ragu masuk. Risiko kandas tinggi, biaya kapal semakin besar karena muatan yang diangkut harus dikurangi,” keluh salah satu agen pelayaran di Bengkulu.
Dua Kapal Alami Insiden Akibat Alur Menyempit
Kekecewaan semakin memuncak setelah dalam dua hari berturut-turut terjadi insiden kapal di depan lentera merah pintu alur Pelabuhan Pulau Baai. Kondisi ini diperparah oleh badai yang menimbulkan tumpukan pasir dan mempersempit jalur.
- SPOB BSP XXX
Tanggal 03 Agustus 2025
Saat kapal bermuatan keluar alur, mengalami kerusakan pada pondasi kemudi kiri. - SPOB Bahari Maju II
Tanggal 04 Agustus 2025
Saat kapal kosong masuk alur, mengalami kerusakan pada kemudi kanan-kiri, pondasi kemudi bengkok dan terangkat, serta lambung kiri bocor.
Kedua insiden ini memperlihatkan semakin parahnya kondisi alur. Akibatnya, pemilik kapal memutuskan untuk menghentikan sementara pelayaran ke Pulau Baai.
Capt. Yudi Hernawan, Deputi Manajer Pemanduan SPJM Bengkulu sekaligus pandu yang bertugas saat membawa masuk SPOB Bahari Maju II, menegaskan akan segera melaporkan kondisi alur kepada Kepala KSOP Bengkulu. Ia menilai area depan pintu lentera merah yang semakin sempit dan dihantam alun kuat sangat membahayakan manuver kapal keluar-masuk pelabuhan.
Pemanduan Kapal Sementara Dihentikan
Sebagai langkah darurat, pemanduan kapal keluar-masuk alur untuk sementara dihentikan menunggu instruksi lebih lanjut dari Kepala KSOP Bengkulu. Kondisi ini membuat sejumlah pemilik kapal menunda operasional ke Pulau Baai, sehingga aktivitas pelabuhan menjadi sepi dan arus barang ikut tersendat. Situasi tersebut dikhawatirkan akan memperlambat denyut ekonomi Bengkulu yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi logistik melalui pelabuhan ini.
Desakan Evaluasi dan Akselerasi
Sebelumnya, General Manager Pelindo menjanjikan kedalaman 4 meter pada tahap pertama pengerukan. Namun, realisasi masih di angka 2,9 meter. Pengguna jasa, pelaku usaha, hingga komunitas maritim mendesak evaluasi menyeluruh, termasuk transparansi progres pengerjaan, hambatan teknis, dan langkah korektif.
“Tanpa percepatan pengerukan dan solusi atas sedimentasi di pintu alur, Pulau Baai bisa semakin kehilangan daya saing. Ini bukan hanya masalah teknis, tapi menyangkut perekonomian daerah,” tegas Wakil Ketua INSA Bengkulu, Edi Hariyanto SP MM., dalam rilisnya.





