Mandi Wajib Setelah Subuh, Apakah Puasa Ramadan Tetap Sah?

By 3 minggu lalu 3 menit membaca

Bengkulu – Pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya mandi wajib setelah waktu Subuh kerap muncul setiap Ramadan, terutama bagi pasangan suami istri atau mereka yang mengalami junub sebelum fajar. Penjelasan fikih menyebutkan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta membatalkan puasa, sepanjang ketentuan syariat tetap dijaga.

Dalam ajaran Islam, hubungan suami istri diperbolehkan pada malam hari hingga datangnya waktu fajar. Ketentuan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 187:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Uḥilla lakum lailataṣ-ṣiyāmir-rafaṡu ilā nisā’ikum, hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn(a), ‘alimallāhu annakum kuntum takhtānūna anfusakum fatāba ‘alaikum wa ‘afā ‘ankum, fal-āna bāsyirūhunna wabtagū mā kataballāhu lakum, wa kulū wasyrabū ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr(i), ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-lail(i), wa lā tubāsyirūhunna wa antum ‘ākifūna fil-masājid(i) tilka ḥudūdullāhi falā taqrabūhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la’allahum yattaqūn(a).

Alaku

Artinya: “Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”

Mengacu pada penjelasan yang dirangkum dari detik, seseorang yang sudah masuk waktu puasa dalam keadaan junub tidak mempengaruhi keabsahan puasa Ramadan. Puasa tetap sah meskipun mandi wajib baru dilakukan setelah Subuh.

Meski puasa tidak batal, umat Islam dianjurkan untuk menyucikan diri sebelum datangnya waktu fajar. Anjuran ini bertujuan agar ibadah puasa dijalani sejak awal dalam keadaan suci, meskipun bukan menjadi syarat sah puasa.

Dalilnya terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah dan Ummu Salamah RA:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَ يَصُوْمُ. روه البخاري

Artinya: “Bahwasanya Rasulullah SAW memasuki waktu fajar dan beliau dalam keadaan junub karena salah seorang keluarga (istrinya), kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (HR Bukhari)

Penegasan serupa juga disampaikan dalam hadits riwayat Nafi’ RA:

سَأَلْتُ أُمَّ سَلَمَةَ عَنِ الرَّجُلِ يُصْبِحُ، وَهُوَ جُنُبٌ يُرِيدُ الصَّوْمَ؟ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ الله يُصْبِحُ جُنُباً مِنَ الْوِقَاعِ، لَا مِنْ اِحْتِلَامِ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيُتِمُّ صَوْمَهُ. روه ابن ماجه.

Artinya: “Aku bertanya kepada Ummu Salamah (istri nabi) mengenai seseorang yang bangun pagi dalam keadaan junub dan ia hendak berpuasa? Ia menjawab: Rasulullah SAW bangun pagi dalam keadaan junub karena bersetubuh, bukan karena mimpi basah, kemudian beliau mandi besar dan menyempurnakan puasanya.” (HR Ibnu Majah)

Selain junub akibat hubungan suami istri, mimpi basah yang terjadi pada siang hari di bulan Ramadan juga tidak membatalkan puasa. Dalam buku Panduan Ibadah Puasa Wajib dan Sunnah karya H. Ahmad Zacky, ulama Universitas Al-Azhar Kairo Mesir Syekh Ali Jum’ah menegaskan bahwa puasa tetap dilanjutkan hingga waktu Magrib.

“Puasanya diteruskan sampai waktu magrib, dan ia tidak berkewajiban membayar utang puasa,” jelas Syekh Ali Jum’ah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xAlaku
xAlaku
Mandi Wajib Setelah Subuh, Apakah Puasa Ramadan Tetap Sah? - repoeblik.com
Menu
Cari
Bagikan
Lainnya
0%