Scroll untuk baca artikel
Alaku
Alaku
Alaku
Alaku
Artikel

Terima kasih Rs Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas

×

Terima kasih Rs Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas

Sebarkan artikel ini
Terima kasih Rs Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas
Terima kasih Rs Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas
Alaku

SENYAP…, kelopak mataku kembali menganga, ketika mendengar nada sumbang dari anak bungsuku. kucoba kembali menyatukan telapak tanganku di keningnya, ternyata suhunya masih belum turun.

Lantas, dadaku kembali menabuh genderang perang sambil membantu mengangkat kelopak mataku di tengah malam kota yang dulu tahun 1929 berstatus Ibu Kota Marga Sindang Kelingi Ilir itu.

Alaku

Suara detak jarum jam terdengar nyaring bersamaan dengan suara batu membentur tiang listrik sebanyak 2 kali, yang menandakan sudah pukul 02.00 wib. Istriku kembali memegang mesra kain yang dikawinkan dengan air hangat untuk diletakkan dikening anak bungsuku, berharap suhunya segera turun.

“Apa harus segera kita bawa ke rumah sakit,” tanya istriku sayup di telingaku.

Terdiam, aku pun bergegas memeriksa kartu sakti yang katanya menjamin warga nusantara untuk berobat gratis dimanapun, walaupun harus dibayar setiap bulan bak hutang. Di sela dompetku terselip nama Oe* Gal** Syah** dengan tulisan BPJS Kesehatan, “Inilah kartu sakti yang yang kucari,” bisikku dalam hati.

Di pinggiran kota yang pada tahun 1981 ditetapkan statusnya sebagai Kota Administratif ini kembali muncul kepanikan, ketika anak bungsuku badannya gemetar dan tak sadarkan diri. Bergegas kami berangkat ke rumah sakit, yang aku pun tak tahu arah dan tujuan rumah sakit mana yang akan kami singgahi.

Daerah Otonom yang diresmikan pada 17 Oktober 2001 ini memang banyak memilik rumah sakit besar dan berkualitas, tak heran sempat terdengar Kota Lubuklinggau ini merupakan kota yang maju. Kami berempatpun (aku, istri dan kedua anakku) mulai menyusuri jalan, dari perumahan padat penduduk sampai ke tengah kota yang masih terlihat kesibukan aktivitas.

Sesampai di Jl. Yos Sudarso, terlihat rumah sakit besar bertuliskan RS DR. SOBIRIN. Aku pun segera mengendarai kendaraan roda duaku ke arah rumah sakti tersebut. Dengan ramah seorang perawat menyapa kami dan langsung mengarahkan kami ke salah satu ranjang rumah sakit.

Tak lama berselang, datanglah seorang dokter pria muda juga menyapa kami dan segera memeriksa kondisi anak bungsuku, yang masih tak sadarkan diri. Singkat cerita, dengan pelayanan yang baik, rumah sakit ini berhasil menyadarkan dan menurunkan panas anak bungsuku, ditukara dengan kartu sakti tadi.

Terima kasihku dalam hati kepada rumah sakti yang dulunya bernama Centrale Buogerlijke Ziekeninrichting itu, saya pun percaya dengan visi rumah sakit yang sekarang bernama Rs Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas tersebut , yaitu  Memiliki Rumah Sakit dengan Pelayanan Prima dan Berkeadilan.

Iya, aku pun terkejut, ternyata rumah sakit tersebut adalah rumah sakit Kabupaten Musi Rawas yang berada di tengah Kota Lubuklinggau.

Beberapa saat kemudian, kami pun diperbolehkan untuk kembali pulang ke rumah, setelah anak bungsuku ditangani dengan baik. Melihat pelayanan para perawat dan dokter disana, aku pun teringat dengan beberapa peristiwa, bagaimana mungkin keluarga pasien tega melakukan kekerasan kepada tim medis, yang dengan sepenuh hati membantu.

Dengan artikel singkat ini, saya berharap semua dapat mengambil hikmah dengan menghargai dan menghormati profesi di bidang kesehatan. Terima kasih Rs Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas, terima kasih Kota Lubuklinggau, terima kasih Kabupaten Musi Rawas, terima kasih Dokter, terima kasih perawat dan semua tim medis di Indonesia. Salam hormat dari saya, Okta, jurnalis pinggiran yang mengapresiasi kalian.

Penulis adalah wartawan aktif yang juga pengusaha online asal Kabupaten Empat Lawang Sumatera Selatan

Alaku
Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ABADI
Artikel

Bau sampah yang samar terbakar adalah penanda datangnya…