Alaku
Alaku
News

Sejarah Naskah Proklamasi, Apakah Masih Awet Sampai Sekarang?

×

Sejarah Naskah Proklamasi, Apakah Masih Awet Sampai Sekarang?

Sebarkan artikel ini
Sejarah Naskah Proklamasi, Apakah Masih Awet Sampai Sekarang?
Sejarah Naskah Proklamasi, Apakah Masih Awet Sampai Sekarang? - foto dok mamikos

Sejarah perumusan naskah proklamasi adalah satu momen yang penting untuk menuju detik-detik kemeredekaan bangsa Indonesia. Menurut yang tercatat dalam sejarah, perumusan naskah proklamasi dilakukan di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol Nomor 1.
Di rumah itu, naskah proklamasi ditulis tangan oleh Ir Soekarno. Dan naskah disempurnakan oleh Sayuti Melik dengan ketikanya.

Lalu di mana kini naskah proklamasi yang ditulis tangan oleh Ir Soekarno? Ternyata warisan sejarah bangsa Indonesia itu masih ada dan tersimpan rapih loh.

Detik-detik Perumusan Naskah Proklamasi
Dilansir dari buku Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang tekah diterbitkan oleh Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1990/1991, proses perumusan naskah proklamasi terjadi sekitar pukul 03.00 WIB pada tanggal 17 Agustus 1945.

Perumusan terlaksana sesudah Ir Soekarno dan Dr Hatta berdiskusi dengan Maeda membahas tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saat itu dijelaskan Maeda hanya mendengarkan dengan seksama dan mengundurkan diri menuju kamar tidurnya.

Teks naskah proklamasi pertamanya mau diberi judul “Maklumat kemerdekaan”. Dan karena, Mr Iwa Kusumasumantri mengusulkan untuk mengubah nama judul teks tersebut dan lalu diubah judulnya menjadi “Proklamasi” sebagai bentuk keputusan suatu bangsa yang menyatakan kebebasan dari penindasan penjajah.

Sekitar pukul 03.00 WIB, Ir Soekarno, Drs Moh Hatta, dan Mr Subardjo memasuki ruang makan sekaligus ruang rapat di rumah Maeda. Ia mengitari sebuah meja bundar.

Pada momen itu Soediro juga turut ada dan BM Diah yang mengikuti dan duduk di ruangan agak belakang. Ir Soekarno mulai mempersiapkan draft Naskah Proklamasi dengan melakukan sumbangan ide dari Drs Moh Hatta dan Soebardjo.

Rumusan teks proklamasi ditulis dengan menggunakan kertas bergaris-garis biru, yang menurut Ir Soekarno didapatnya dari seseorang yang memberikan buku catatan bergaris-garis biru. Sesudah teks tersebut diberi judul “Proklamasi” dialog pertama yang dihasilkan adalah “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”.

Kata-kata itu dinilai keramat yang merupakan amanat penderitaan rakyat Indonesia dan harus ditorehkan dalam suatu bentuk tulisan untuk menuju kenyataan. Dalam naskah teks proklamasi yang asli, terdapat beberapa coretan menunjukkan bahwa ada tanda suatu pertukaran pendapat dalam merumuskannya.

Seusai selesainya, konsep naskah proklamasi tersebut dibawa ke serambi dan lalu dibacakan secara perlahan-lahan serta berulang-ulang oleh Soekarno. Setelahnya ia bertanya kepada hadirin yang lain apakah setuju atau tidaknya rumusan itu.

Dan menurut Drs Moh Hatta jawaban dari hadirin adalah gemuruh suara yang menyatakan setuju dengan rumusan itu. Dan menariknya, ada suatu kejadian dalam perumusan naskah proklamasi tersebut.

Teks proklamasi sempat diremas dan dibuang ke tempat sampah. Namun, naskah itu diselamatkan oleh wartawan yang ikut ke ruang penyusunan yakni BM Diah.

“Dulu teks Proklamasi juga pernah diremas dan lalu dibuang ke tempat sampah. Ini memang dulu di antara para penyusun ada wartawan namanya BM Diah, nah sesudah ini disepakati untuk menulis ini kesepakatannya yang luar biasa antara Sukarno, Soebardjo dan tokoh-tokoh pemuda yang sudah cukup radikal dengan Bung Karno dan Hatta,” ucap Direktur Preservasi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang menjabat pada tahun 2019 lalu, Kandar.

Naskah Proklamasi Asli
Yang dlilansir dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) BM Diah menyerahkan naskah proklamasi tersebut kepada negara melalui Menteri Sekretaris Negara periode 1988-1998 yakni Moerdiono. Moerdiono kemudian menyerahkan naskah proklamasi tulisan tangan Bung Karno kepada Kepala ANRI periode 1992-1998 kala itu yakni Noerhadi Magetsari.

Kini, naskah proklamasi yang asli telah tersimpan di ANRI selama 30 tahun sejak tahun 1992. Naskah tersebut lalu disimpan dalam ruang dan tempat penyimpanan khusus.

Dikutip dari detiktravel, naskah proklamasi melalui metode pengawetan arsip yang bernama enkapsulasi. Proses ini dilakukan seperti laminating dengan bahan dan metode yang berbeda.

Sesudah dilapisi, lalu arsip dibawa ke dalam ruangan yang sudah diatur suhu dan kelembabanya. Dan Arsip tersebut disimpan ke dalam ruangan yang memiliki suhu 18-20 derajat celcius yang memang standar daerah tropis.

Konsentrasi asam dan basa juga harus diatur, dikarenakan apabila tidak diatur maka akan terjadi perubahan drastis kondisi arsip bisa rusak. ANRI juga memberikan kegiatan preservasi yang bikin dan bagus secara preventif maupun kuratif.

Sementara itu, juga dilaksanakan risk assessment terhadap naskah proklamasi tulisan tangan Bung Karno yang berguna untuk menilai risiko yang dihadapi atau akan dihadapi. Lalu demikian ANRI juga bisa mengontrol dan mengawasi risiko yang telah ada serta meminimalisasi dampak atas risiko yang akan datang.

Diket, pada saat memperingatan HUT ke-77 Kemerdekaan RI tahun 2022 lalu, naskah proklamasi yang asli turut ditampilkan dalam suatu mimbar kehormatan pada saat Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka pada tahun 17 Agustus 2022 lalu.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *