Jakarta – Selama bulan September, Indonesia mengalami beberapa gempa bumi yang mengguncang berbagai wilayah, mulai dari Bandung, Morotai, hingga Gorontalo. Meskipun tampak terjadi berurutan, para ahli menegaskan bahwa gempa-gempa ini tidak saling berkaitan. Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan bahwa gempa di Bandung disebabkan oleh patahan Kertasari, sesar baru yang sejajar dengan sesar Garsela. Sementara itu, gempa di Gianyar, Bali, dipicu oleh aktivitas sesar daratan, sedangkan gempa di Gorontalo terjadi akibat deformasi lempeng bumi.
Indonesia berada di wilayah tektonik aktif, tempat bertemunya beberapa lempeng bumi, sehingga gempa sering terjadi di berbagai zona. Pakar geologi UGM, Gayatri Indah Marliyani, menjelaskan bahwa gempa di Indonesia bersumber dari dua zona utama, yaitu zona subduksi di laut dan sesar aktif di darat. Kedua sumber gempa ini tidak saling memengaruhi, meskipun terjadi hampir bersamaan.
Menurut Gayatri, sesar aktif sulit dipetakan di Indonesia karena kondisi geografis yang membuat bukti-bukti sesar terhapus oleh erosi dan pelapukan. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami potensi gempa dari sesar aktif ini, dan masyarakat yang tinggal di area berisiko harus selalu waspada. Ia juga menekankan pentingnya edukasi kebencanaan untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi gempa.