Alaku
Alaku
News

Jangan Terpengaruh oleh Makelar Suara Jelang Pemilu 2024

×

Jangan Terpengaruh oleh Makelar Suara Jelang Pemilu 2024

Sebarkan artikel ini
Jangan Terpengaruh Oleh Makelar Suara Jelang Pemilu 2024
Jangan Terpengaruh Oleh Makelar Suara Jelang Pemilu 2024 - foto dok merdeka

Makelar suara pemilu merujuk pada individu atau kelompok yang terlibat dalam praktik memperoleh suara secara tidak sah atau meragukan dalam pemilihan umum atau proses pemungutan suara. Makelar suara bertindak sebagai perantara yang mencoba mempengaruhi atau memanipulasi hasil pemilihan dengan cara-cara yang melanggar etika dan hukum.

Praktik makelar suara merupakan bentuk pelanggaran hukum dan merusak integritas proses demokratis. Banyak negara memiliki undang-undang dan peraturan yang ditetapkan untuk mencegah dan menghukum tindakan makelar suara dalam pemilihan umum. Pengawasan ketat, kesadaran masyarakat, dan keterlibatan pihak berwenang dalam mencegah praktik ini sangat penting untuk memastikan bahwa pemilihan umum berlangsung dengan adil dan bebas dari pengaruh yang merugikan.

Praktik makelar suara diatur oleh berbagai undang-undang dan peraturan terkait pemilihan umum. Salah satu undang-undang yang relevan adalah:

1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum

Undang-undang ini mengatur berbagai aspek terkait pemilihan umum di Indonesia, termasuk sanksi terhadap pelanggaran dalam proses pemilihan. Bab XVII Pasal 525 UU Nomor 7 Tahun 2017, misalnya, menyebutkan bahwa setiap orang yang melakukan tindakan penyuapan atau pemalsuan dokumen dalam pemilihan umum dapat dikenai pidana penjara dan/atau denda.

2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang

Undang-undang ini mengatur lebih rinci tentang pemilihan kepala daerah dan sanksi bagi mereka yang terlibat dalam praktik penyuapan atau pemalsuan dalam pemilihan kepala daerah.

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

Meskipun tidak secara khusus membahas makelar suara, undang-undang ini mengatur kode etik dan perilaku pegawai negeri, termasuk larangan pegawai negeri terlibat dalam praktik politik praktis.

4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Penanganan Uang Hasil Tindak Pidana

Undang-undang ini mengatur pengaturan dan penanganan uang hasil tindak pidana, termasuk uang yang diperoleh dari praktik makelar suara.

Mengurangi praktik makelar suara dalam pemilihan umum adalah penting untuk menjaga integritas dan keadilan dalam proses demokratis. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi praktik makelar suara:

1. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya partisipasi yang jujur dan integritas dalam pemilihan umum. Kampanye pendidikan dan kesadaran dapat membantu mengubah persepsi masyarakat tentang praktik makelar suara.

2. Peningkatan Pengawasan: Memastikan ada mekanisme pengawasan yang kuat selama proses pemilihan. Pengawasan dari lembaga independen, LSM, dan masyarakat dapat membantu mendeteksi dan mencegah praktik makelar suara.

3. Transparansi dalam Pembiayaan Politik: Memperkuat regulasi mengenai pembiayaan politik dan mewajibkan partai politik atau kandidat untuk secara terbuka melaporkan asal usul dana kampanye mereka. Ini dapat mengurangi risiko praktik korupsi dan penyuapan.

4. Sanksi yang Tegas: Menetapkan sanksi yang tegas dan tindakan hukum terhadap mereka yang terlibat dalam praktik makelar suara. Sanksi ini harus mencakup hukuman pidana dan denda yang cukup berat untuk memperingatkan potensi pelaku.

5. Teknologi dan Inovasi: Menggunakan teknologi untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pemilihan. Sistem pemungutan suara elektronik yang aman dan terjamin dapat mengurangi peluang manipulasi suara.

6. Partisipasi Aktif Masyarakat: Mendorong masyarakat untuk melaporkan praktik makelar suara yang mereka ketahui. Masyarakat dapat berperan sebagai mata dan telinga dalam mengawasi pelaksanaan pemilihan.

7. Pelatihan Pemilih: Memberikan informasi kepada pemilih tentang bagaimana proses pemilihan berlangsung, hak mereka, dan bagaimana melaporkan praktik makelar suara jika mereka disarangkan oleh hal semacam itu.

8. Penguatan Lembaga Penegak Hukum: Memastikan bahwa lembaga penegak hukum memiliki kewenangan dan sumber daya yang cukup untuk menyelidiki dan mengusut praktik makelar suara.

Mengurangi praktik makelar suara memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, partai politik, lembaga penegak hukum, dan masyarakat. Upaya bersama ini akan membantu menjaga integritas dan keadilan dalam pemilihan umum.

Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *