Scroll untuk baca artikel
Alaku
Alaku
Alaku
Alaku
News

Gus Yahya: Agama bukan Alat Politik

×

Gus Yahya: Agama bukan Alat Politik

Sebarkan artikel ini
Gus Yahya: Agama bukan Alat Politik
Gus Yahya: Agama bukan Alat Politik - foto dok nu
Alaku

Efek buruk politik dan agama dapat terjadi ketika agama digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan politik atau ketika politik memanipulasi isu-isu agama untuk kepentingan tertentu. Beberapa efek buruk yang dapat timbul dari hubungan politik dan agama yang tidak sehat .

Untuk menghindari efek buruk politik dan agama, penting untuk memastikan pemisahan antara agama dan negara, mempromosikan prinsip-prinsip demokrasi dan pluralisme, serta mendorong dialog dan pemahaman antar kelompok agama. Hal ini akan membantu menciptakan masyarakat yang inklusif, toleran, dan berdampingan secara damai.

Alaku

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama bukanlah alat yang dipakai untuk kepentingan politik. Gus Yahya tidak ingin melihat NU dipermainkan untuk pemilu.

Nadhatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Itu adalah organisasi Islam Sunni yang memiliki sejarah panjang dan berpengaruh di negara tersebut. NU didirikan pada tahun 1926 dan didasarkan pada paham Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mengikuti ajaran Islam yang moderat dan inklusif.

Tujuan utama NU adalah untuk mempromosikan ajaran Islam yang damai, meneruskan nilai-nilai keislaman, dan berkontribusi dalam pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi di Indonesia. Selama sejarahnya, NU telah menjadi kekuatan penting dalam membentuk kehidupan keagamaan dan politik di Indonesia.

NU memiliki ribuan pesantren (sekolah agama Islam) dan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, serta banyak pengikut dan pendukung dari berbagai lapisan masyarakat. Organisasi ini berusaha mempromosikan toleransi, perdamaian, dan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat.

“Nah ini supaya orang politisi ini tidak mempermainkan agama. NU saja kami nggak mau dipermainkan untuk pencalonan begini-begitu, apalagi agama jangan dipermainkan,” ujar Gus Yahya, Senin (7/8/2023) dilangsir detiknews.

Hal ini ada banyaknya partai politik ataupun politik yang mengaku mendapatkan dukungan dari PBNU untuk pemilu 2024. Maka dari itu Gus Yahya merasa jengkel karena menurutnya NU seperti barang dagangan. Ia juga menegaskan tidak ada calon presiden atau calon wakil presiden dari pihak PBNU.

Gus Yahya menilai memang banyak warga NU yang aktif di dunia politik. Tetap bukan serta-serta untuk mewakili NU. Dia meminta para pemeran Politik mengandalkan kredibilitasnya untuk meraup suara, bukan karena NU.

Gus Yahya menilai memang banyak warga NU yang aktif di partai politik, tetapi bukan serta-merta mewakili NU. Dia meminta aktor politik mengandalkan kredibilitasnya untuk meraup suara, bukan karena NU.

Gus Yahya, meminta identitas agama tidak bermanipulasi menjadi senjata dukungan politik atau pihak lain. Ini nantinya akan menjadi masalah karena menggiring agama.

Terakhir, pemilu 2019 terjadi pengalaman buruk. Karena NU harus ikut dalam politik.

Pemisahan politik dan agama adalah prinsip penting dalam sistem pemerintahan yang disebut sebagai negara sekuler. Beberapa alasan mengapa politik dan agama sebaiknya tidak digabungkan adalah:

Meskipun pemisahan politik dan agama penting dalam mewujudkan masyarakat yang inklusif dan toleran, hal ini bukan berarti bahwa agama tidak memiliki peran dalam kehidupan masyarakat. Agama tetap bisa memberikan panduan moral dan etika bagi individu, dan masyarakat yang pluralis dapat menghargai dan mengakui kontribusi positif dari berbagai agama.

Penting untuk dicatat bahwa hubungan antara politik dan agama sangat kompleks, dan efeknya dapat berbeda di berbagai negara dan masyarakat. Perlindungan terhadap kebebasan beragama dan keadilan sosial menjadi penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan harmonis bagi seluruh masyarakat.

Alaku
Alaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *